Pesta Kesenian

Ritual Ojung di Bondowoso merupakan tradisi sakral memohon hujan saat kemarau panjang serta simbol keberanian dan persaudaraan. Foto : KITLV Image Collection, Leiden University Libraries.

Risiko bisa saja muncul ketika pesta bermodal besar justru mengandalkan aktor-aktor “tua” yang dijadikan pemeran utama sebagai pendongkrak exposure. Bahkan, panggung-panggung megah itu kini seringkali menjadi ajang repetisi bagi aktor-aktor “tua” yang dipuja karena nama besar, demi menjamin keamanan investasi kapital. Itu-itu saja orangnya, begitu-begitu saja gayanya. Proses regenerasi terhambat dan degradasi pola kesenian terjadi secara nyata. Ia merasa masygul melihat bibit muda yang berbakat hanya bisa menggigit jari melihat seniornya terus-terusan jadi aktor utama di atas panggung. Arya menyaksikan proses regenerasi yang tersumbat oleh ambisi eksistensi personal.

Fenomena lain yang menggejala adalah pemanfaatan personal branding melalui tokoh tertentu demi menunjang eksistensi sanggar, sebuah praktik pencitraan paket express. Arya teringat pada sosok Sang Juru Rekas, seorang mandor kesenian berkumis licin yang gemar ngathok kepada Empu Gending demi mendongkrak sanggar seni yang dipimpinnya. Ini adalah sebuah “jalan pintas” membangun eksistensi dengan mengabaikan uji kualitas artistik demi menaikkan derajat keterkenalan.

Malam semakin larut di Giri Sasana. Arya Lontar menutup lembaran babadnya. Apa yang ia tulis adalah sebuah refleksi. Ia tulis sambil merangkai ingatan-ingatan yang sudah kedaluwarsa. Baginya, penting untuk diingat kembali agar empati dan naluriahnya terjaga. Baginya, keindahan pesta kesenian seharusnya terletak pada partisipasi warga yang penuh suka cita, bukan pada kemegahan infrastruktur atau kerumitan administrasi yang menjauhkan seniman dari akarnya. Masyarakat seharusnya berkesenian karena kebutuhan batiniah, bukan karena tuntutan keterkenalan yang bersifat sementara.

Ia ingin, kelak anak cucunya bisa membaca dan mengambil hikmah dari perubahan zaman. Berkesenian adalah kebutuhan batiniah untuk memuliakan harkat kemanusiaan, bukan sekadar kompetisi membangun citra. Bukan suatu hal yang berlebihan, berharap sesuatu yang ideal. Arya ingin agar pesta kesenian di masa depan kembali menjadi milik rakyat, dikelola oleh rakyat, dan sepenuhnya untuk rakyat.

* Penulis merupakan Pemerhati Budaya.

___________________

Catatan :

  • Foto hanya merupakan ilustrasi yang bersifat estetika untuk menggambarkan penghormatan terhadap keagungan dan kekayaan seni tradisi dan tidak merepresentasikan tokoh atau sanggar tertentu dalam esai fiksi ini.
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *