Pesta Kesenian

Barong Ider Bumi merupakan simbol kekuatan dan semangat kebersamaan untuk menjaga desa agar terhindar dari wabah sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Foto : Over Muziek in Het Banjoewangische 1926.

Arya teringat pada sosok Sang Juru Rekas, seorang mandor kesenian berkumis licin yang gemar ngathok kepada Empu Gending demi mendongkrak sanggar seni yang dipimpinnya. Ini adalah sebuah “jalan pintas” membangun eksistensi dengan mengabaikan uji kualitas artistik demi menaikkan derajat keterkenalan.

Sudah se-paron mangsa Arya Lontar menetap di wilayah Desa Giri Sasana. Ia meninggalkan kemegahan Istana Wanamarta demi memburu sunyi yang mampu memantik daya kreatifnya sebagai seniman. Di pusat kota, ia merasa penuh sesak dan bising; modernisasi telah menjarah ruang-ruang ritual, mengubah masyarakat yang dulunya guyub menjadi sekumpulan individu yang asing terhadap tradisi leluhurnya. Kegelisahan itulah yang membawanya tirah ke desa.

Di teras gubuk bambunya, sembari memandang lamat-lamat persiapan warga, Arya mulai merenungi hakikat sebuah pesta. Baginya, pesta adalah ruang pertemuan yang suci, titik temu di mana penduduk desa hingga orang kota sepakat melupakan cicilan tanah dan beban hutang demi mensyukuri napas kehidupan. Pesta kesenian rakyat, dalam ingatan Arya, adalah perayaan kolektif layaknya kenduri : ada nasi tumpeng dan warga berbondong-bondong datang penuh suka cita. Dalam pesta kesenian, baik sanggar, kelompok, komunitas, hingga individu-individu kreatif melebur dalam satu kepentingan dan tumpah ruah tanpa kompetisi, tanpa kasta, dan tanpa sekat birokrasi.

Namun, kedamaian di Giri Sasana tak sepenuhnya mampu menghapus bayang-bayang realitas yang ia lihat di Wanamarta. Arya menyadari bahwa euforia organik itu kini perlahan menjauh, digantikan oleh keterkejutan yang tertata rapi. Arya meratapi bagaimana model event organizer mengambil alih peran masyarakat. Aktivitas kesenian kini bersifat reguler dan mekanis, mengikuti siklus termin pendanaan. Kalau uangnya belum cair, jangan harap ada ekspresi budaya. Sifat organik yang dahulu dipikul secara gotong royong melalui iuran warga kini lumat oleh ketergantungan pada sponsor dan dana hibah Raja Wanamarta.

Dalam perenungannya, Arya melihat sebuah ketimpangan yang nyata. Sanggar-sanggar besar mungkin bisa bertahan, namun komunitas akar rumput dan seniman perseorangan terpaksa terjepit dalam labirin administratif yang rumit. Mereka tidak memiliki daya tawar tinggi untuk menyelenggarakan pesta secara mandiri. Akuntabilitas dan tata kelola birokrasi yang ketat seringkali menjadi tembok yang menghalangi seniman desa untuk mengakses dengan mudah modal pesta kesenian. Seharusnya, fleksibilitas skema pendanaan menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat desa mampu mengakses modal pesta secara lebih mudah.

Lebih jauh lagi, Arya melihat bahaya dari logika industri yang mulai merasuk di hati para seniman. Pelaku seni di masa lalu beraktivitas karena kebutuhan bersosialisasi dan sinergi antarwarga. Kini, latihan berkesenian lebih ditekankan sebagai upaya persiapan untuk target pertunjukan, memenuhi kebutuhan tanggapan atau pesta para birokrat. Akibatnya, seniman akan kehilangan otonominya dan hanya menjadi sekrup dalam mesin produksi seni pertunjukan berskala besar.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *