
Banyuwangi — Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB), Hari Purnomo, M.E., berhasil lolos dalam Sayembara Menulis Sastra #1 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Jaringan GUSDURian Indonesia pada bulan April tahun 2026. Sayembara tersebut mengangkat tema “9 Nilai Utama Gus Dur” sebagai landasan utama karya-karya yang dipilih.
Hari Purnomo dikenal sebagai akademisi di bidang Ilmu Ekonomi yang secara konsisten menaruh perhatian pada kajian kebudayaan. Dalam berbagai aktivitas akademiknya, ia berupaya mempertemukan disiplin ilmu ekonomi dengan pendekatan seni budaya sebagai bagian dari pembacaan sosial yang lebih luas.
Menurut Hari, ilmu ekonomi merupakan akar dari seluruh bidang keilmuan dan memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Pandangan tersebut mendorongnya untuk menggunakan pendekatan multidisipliner, terutama dalam membaca persoalan kebudayaan dan dinamika masyarakat modern.
Dalam sayembara tersebut, Hari menulis cerita pendek berjudul “Stempel Basah”. Karya tersebut menghadirkan kritik sosial terhadap polah masyarakat modern yang dinilai semakin terjebak dalam logika formalitas, birokrasi, dan ambisi ekonomi, hingga perlahan kehilangan ruh kebudayaannya. Melalui narasi yang dibangun, Hari menyoroti cara masyarakat memandang nilai, pendidikan, dan kebudayaan di tengah sistem sosial yang semakin pragmatis.
Gagasan yang diangkat dalam cerpen tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan pemikiran humanisme Gus Dur. Selama hidupnya, Gus Dur kerap mengkritik cara berpikir yang menempatkan manusia sebatas objek birokrasi maupun angka statistik pembangunan. Bagi Gus Dur, kebudayaan merupakan ruang hidup yang menjaga martabat manusia, sementara pendidikan semestinya membentuk manusia merdeka yang memiliki kepekaan sosial dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan. Hari berharap generasi muda saat ini mampu menjaga nilai-nilai humanisme dalam proses pendidikan dan kehidupan sosialnya.
Menurutnya, tantangan masa depan membutuhkan manusia-manusia unggul yang tidak tercerabut dari akar kebudayaannya sendiri. “Penguatan benteng kebudayaan lokal menjadi sangat penting untuk menjaga warisan nilai yang telah ditanamkan para guru bangsa,” ujarnya. (tim)