Saya juga. Kami sering bertemu di hotel. Di festival-festival kesenian. Di ruang rapat perhelatan pameran seni rupa. Dan, di warung-warung kopi dengan dialektika yang sama tentang kebudayaan. Kami saling berbicara dengan suara yang sopan. Kadang saya teringat bagaimana kami dulu memaki semua itu. Lalu saya buru-buru memesan kopi.
Beberapa bulan lalu saya kembali ke rumah itu. Orang tua itu sedang duduk sendirian. Mesin tiknya tampak diam tak berkutik. Saya kira ia sedang tidur. Tetapi ketika saya masuk, ia berkata, “Kamu terlambat.” Hanya itu.
Saya ingin menjelaskan banyak hal. Tentang pekerjaan dalam jabatan saya sebagai Ketua Harian Dewan Kesenian. Rasa-rasanya setiap hari hidup saya semakin memboneka. Juga, tentang keluarga saya yang tinggal di desa dan saya di kota. Tentang kesibukan sehari-hari dalam profesi saya sebagai Koki. Dan, tentang dunia yang terus berubah.
Tetapi mendadak semua alasan itu terdengar seperti iklan radio. Saya tidak jadi bicara. Kami duduk cukup lama. Kemudian saya melihat sesuatu bergerak di lantai. Itu Belatung. Seekor. Lalu dua. Lalu puluhan. Lantas, saya berdiri.
Orang tua itu tidak bereaksi. Belatung-belatung itu keluar dari sela-sela buku. Dari bawah meja. Dari tumpukan manuskrip yang menggunung di pojok ruangan. Diatas meja tuanya yang renta. Aneh sekali. Namun, saya tidak merasa jijik.
Saya justru merasa mengenal mereka. Mereka merayap perlahan ke arah pintu. Mereka berjalan tidak tergesa-gesa. Seolah sedang mencari alamat.
“Ada bangkai?” tanya saya. Orang tua itu menggeleng. Belatung-belatung itu terus bergerak. Semakin banyak. Mungkin, ribuan. Saya memperhatikannya. Beberapa memiliki wajah yang tidak asing.
Salah satunya mirip seorang penyair yang sekarang menjadi Pemilik Usaha Dapur Umum. Bos saya. Bisa dibilang, dia senior dari seluruh penyair di kota ini. Yang lain mirip pencipta lagu terkenal yang gemar kampanye saat Pilkada. Saya berkedip. Wajah-wajah yang saya kenal itu tiba-tiba hilang.