
Saya datang terlambat.
Rumah itu masih sama seperti dulu. Cat temboknya mengelupas. Rak-rak bukunya miring. Mesin tik tua di sudut ruangan masih berada di tempat yang sama seperti ketika saya pertama kali datang dua puluh tahun lalu.
Entah mengapa saya selalu merasa rumah itu seperti bernapas. Kalau malam, terutama ketika listrik padam, terdengar suara seperti orang membalik halaman buku. Padahal tidak ada siapa-siapa.
Dulu kami sering berkumpul di sana. Kami datang dengan mata merah karena kurang tidur dan kepala penuh kemarahan. Kami menulis. Melukis. Berdiskusi. Berdebat. Seringkali dalam berdebat, kami tak sungkan mengutuk penguasa. Membuat rencana-rencana besar yang sekarang saya sendiri malu mengingatnya.
Orang tua itu tidak pernah banyak bicara. Ia lebih sering mendengarkan. Kadang ia hanya duduk sambil mengetik sesuatu yang tidak pernah kami baca. Anehnya semua kebutuhan kami selalu tersedia. Kalau beras habis, ada beras. Kalau cat habis, ada cat. Kalau penerbit menolak naskah kami, besok tiba-tiba ada biaya cetak.
Kami tidak pernah bertanya uang itu datang dari mana. Kami menganggapnya biasa saja. Anak muda memang menganggap banyak hal sebagai haknya. Saya juga begitu.
Ketika buku pertama saya terbit, ia hanya tersenyum. Ketika saya mendapat penghargaan, ia tersenyum lagi. Ketika saya mulai jarang datang ke rumah itu, ia masih saja tersenyum. Justru itu yang membuat saya kesal. Seolah-olah ia tahu sesuatu yang tidak saya ketahui.
Seiring waktu, teman-teman saya menghilang satu per satu. Ada yang kemudian menjadi Kurator seni rupa. Ada yang menjadi Ketua Harian Dewan Kesenian. Ada yang menjadi staf ahli pemerintah bidang kebudayaan. Ada yang menjadi penyair dengan segudang penghargaan sekaligus merangkap menjadi Ketuanya Ketua Harian Dewan Kesenian. Ada yang menjadi apa saja selain dirinya sendiri.