Tutup Botol

Tutup Botol | ilustrasi Hari Purnomo – jekabe

Tutup botol itu berwarna kuning. Warnanya tidak terlalu kuning sebenarnya. Ia hanya kebetulan menyerupai kuning. Sebagaimana banyak manusia yang kebetulan menyerupai manusia tanpa pernah benar-benar berhasil menjadi manusia.

Tutup botol itu terletak di atas meja. Tidak ada botol. Hanya tutupnya. Kehadiran sebuah tutup tanpa botol semestinya mengundang pertanyaan. Tetapi manusia sudah terlalu sibuk untuk bertanya tentang hal-hal yang memang pantas dipertanyakan. Mereka lebih senang bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu dijawab.

Karena itu tutup botol tersebut segera menjadi penting. Orang-orang mulai mengelilinginya. Mula-mula hanya karena penasaran. Kemudian karena curiga. Lalu karena merasa bertanggung jawab. Tidak lama kemudian karena ingin berkuasa atasnya.

Benda-benda kecil sering mengalami nasib seperti itu. Mereka tidak pernah meminta perhatian. Manusia yang memaksa memberikannya. Seekor semut yang berjalan lurus dapat menjadi bahan penelitian. Seekor cicak yang jatuh dari langit-langit dapat menjadi pertanda. Dan sebuah tutup botol dapat menjelma menjadi urusan negara.

Tidak ada yang aneh. Peradaban dibangun dari kesalahpahaman yang dikelola secara serius. Tutup botol itu kemudian dipindahkan ke tengah meja. Keputusan tersebut disambut lega oleh khalayak yang hadir. Padahal sebelumnya ia berada di pinggir meja.

Tidak ada yang berubah. Tetapi manusia selalu merasa sedang bekerja ketika berhasil memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Mereka kerap menyebutnya kebijakan, reformasi, dan revolusi. Tergantung besar kecilnya meja.

Sementara itu tutup botol tetap menjadi tutup botol. Ia tidak bertambah pandai. Ia tidak bertambah bijaksana. Ia tidak memperoleh gelar kehormatan. Ia tidak masuk televisi. Ia bahkan tidak mengetahui dirinya sedang dibicarakan. Keadaan itu membuat banyak orang iri.

Sebab manusia hampir tidak pernah bisa tenang ketika menjadi dirinya sendiri. Mereka selalu ingin menjadi sesuatu yang lain. Pejabat ingin menjadi pahlawan. Pahlawan ingin menjadi legenda. Setelah menjadi legenda, mereka ingin hidup dalam keabadian.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *