Setelah S. Yadi K, siapa lagi ?

Arsip catatan program kerja S. Yadi K saat memimpin Komite Seni Rupa DKB tahun 1998.

Pada suatu malam, kami berbincang. Tidak ada formalitas. Tidak ada basa basi. Hanya percakapan dua manusia biasa yang – saya kira – masih memelihara iman di tengah gemuruh persaingan identitas dan pengakuan. Saya dan Ketua Dewan Kesenian Blambangan berdiskusi tentang satu hal, kabar beredar bahwa S. Yadi K akan dicarikan pengganti dari posisinya sebagai anggota MK (Majelis Kehormatan) DKB. Bapak Hasan Basri memastikan, apa yang saya dengar itu bukanlah kabar burung. Ia mengklarifikasi. Rencana itu nyata adanya.

Perbincangan kami bergulir dalam suasana diskusi yang terasa begitu karib. Tentang siapa yang layak. Siapa yang pantas. Siapa yang tidak sekadar hadir dalam struktur, tapi juga sanggup menyusup ke dalam ruh kesenian itu sendiri. Ada tiga nama disebut, yaitu Punjul Ismuwardoyo, Endang Sulistyani dan Sarwo Prasojo. Sementara baru tiga nama, berpeluang muncul nama lain. Selain yang tiga itu, masih banyak seniman yang barangkali tak punya nama besar tetapi justru melebur dalam denyut nadi berkesenian yang juga pantas dan layak diperhitungkan.

Namun sebelum saya terseret lebih jauh ke dalam urusan daftar nama, ada yang jauh lebih utama. Saya ingin menegaskan bahwa nama S. Yadi K bukan sekadar nama. Ia bukan angka ikut dari entitas struktural yang ada. Ia adalah batu pijakan yang diletakkan oleh tangan-tangan peradaban yang meyakini bahwa seni bukan untuk dielu-elukan, tetapi untuk dirayakan. Meski tanpa sorot lampu. Tanpa gelar. Tanpa jabatan. Ia menjaga itu selama sekian ratus purnama.

Yang pulang tidak pernah benar-benar pergi. Yang datang belum tentu menerangi. Tidak semua orang tahu, bahwa S. Yadi K adalah suluh kecil. Ia tak banyak bicara. Ia konsisten menjaga marwah seni rupa di dalam kerja-kerja kelembagaan. Apa yang ia jaga sesungguhnya adalah kesunyian.

Semua orang sudah menulis tentang dedikasinya di bidang seni rupa. Saya tidak ingin mengulang. Saya ingin menambahkan, mungkin saya orang pertama yang menyuarakan bahwa S. Yadi K adalah penjaga gerbang nurani. Ia menempati MK DKB bukan karena pengaruh atau popularitasnya, tapi karena ia mampu menjaga kesunyian dari kegaduhan. Ia tahu kapan bicara, kapan diam. Dan ia tahu betul, kepada siapa suara harus ditujukan.

Maka saya katakan kepada Ketua DKB, yang kita butuhkan bukan sekadar pengganti. Yang kita perlukan adalah sosok yang tidak alergi pada rakyat seniman. Yang bisa duduk di warung, tidak canggung menyeberang ke studio-studio pinggiran. Sosok yang bisa diterima oleh semua perupa, bukan hanya kelompok tertentu. Sebab MK DKB bukan pos jaga bagi mereka yang seorang pensiunan. MK DKB adalah medan strategis tempat nilai-nilai dijaga, dijalankan, dan diperjuangkan yang oleh karenanya memerlukan ketajaman mata batin dan kesiapan lahir batin.

Saya ajukan gagasan musyawarah. Duduk bersama. Bukan hanya dengan segelintir. Tapi dengan seluruh masyarakat seni rupa yang peduli dan mencintai profesinya. Sebab siapa pun yang diamanahi kelak, haruslah menjadi representasi kepentingan bersama, bukan wakil dari satu golongan saja, yang merasa paling tahu arah angin. Minimal, dedikasi dan kontribusi kesenirupaannya nyata adanya.

Seniman adalah pencipta nilai-nilai baru, kata Nietzsche. Maka yang kita butuhkan adalah pencetus ide bagi masa depan. Siapa pun yang duduk di MK DKB harus tahu bahwa ia sedang menulis arah sejarah seni rupa Banyuwangi kedepan. Gramsci mengajarkan kita tentang intelektual organik — yakni orang yang tumbuh dari masyarakat dan bekerja untuk masyarakat. MK DKB tak boleh diisi oleh intelektual yang hanya melapor pada kekuasaan. Ia harus menjadi bagian dari akar, batang, dahan dan daun seni rupa. Ia harus bergumul dengan bau keringat dan cat minyak di studio para pelukis jalanan.

S. Yadi K – atau lengkapnya Supriyadi Kusnun – adalah pelukis yang lahir dari sekolah kehidupan. Ia ditempa oleh pengalaman. Ia menggores warna dari mulai menjalani kerasnya hidup di Ibu Kota, sebelum akhirnya menepi ke pulau dewata. Di Bali, ia menyusuri galeri-galeri dan membangun komunitas. Ia menyentuh dunia bukan dengan ambisi, tapi dengan pengabdian.

Ia menemukan gaya pribadinya bukan dari laboratorium seni, melainkan bersumber dari ketidaksengajaan. Kejadian yang membuatnya terjaga. Tumpahan air di atas kanvas menjadi metode. Aliran menjadi pesan. Apa yang ia temukan, bagi saya adalah proses tadabbur. Membaca apa yang tidak dituliskan, menyelami apa yang tidak dikatakan. Dan dari sana, S. Yadi K menjadi nama yang layak diperhitungkan untuk masuk ke balai lelang dunia – tapi tetap ingat kampung halaman.

S. Yadi K adalah pelukis. Ia juga puisi. Maka pertanyaannya, setelah S. Yadi K, siapa lagi ? adalah soal keberlanjutan. Dan kita hanya bisa menjawabnya jika hati kita masih menyala dan akal kita tidak dikeruhkan oleh urusan-urusan kecil.

* Penulis merupakan Pemerhati Budaya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *