
Kita hari ini adalah kita yang dibentuk oleh hari kemarin”, begitu ujar Mas Yadi.
Berbarengan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) tahun 2013, sore itu sejumlah perupa berkumpul di Gedung Wanita, Banyuwangi. Sebuah pameran karya seni rupa dihelat di gedung yang bertetangga dengan kantor Perum Pegadaian Banyuwangi itu. Sebentuk sarasehan seni rupa pun digelar sebagai penanda bahwa pameran secara resmi dibuka.
Ketika sarasehan yang mendapuk kritikus Agus Koecink sebagai pembicara itu usai, pelukis S. Yadi K. mengajak saya dan Taufiq R.B. (Litbang Jurnal Setrungking) untuk ngopi di kawasan sisi timur SD Kepatihan. Ada hal yang menyebabkan saya untuk segera mengiyakan tawaran tersebut. Mas Yadi—demikian saya biasa memanggilnya—malam itu mengajak saya berbincang tentang hubungan anak dengan orang tua serta hal-ikhwal tentang dendam. Ini adalah dua tema di luar soal-soal teknis kesenirupaan. Dan itulah yang menjadi alasan kuat mengapa saya harus secepatnya mengiyakan tawarannya. Ya, karena temanya.
“Saya ingin meyakinkan kepada mereka yang sekarang mendapat perlakuan tidak baik dari orang tuanya. Bahwa, suatu saat nanti akan ada titik balik. Akan ada masa dimana keadaan justru akan berbalik dan membaik. Orang tua kita akan meminta maaf atas perlakuannya, lalu mengajak kita memperbaiki hubungan”, kata lelaki yang telah 30 tahun mendedikasikan hidupnya untuk dunia lukis itu dengan nada penuh keyakinan.
Untuk menguatkan keyakinannya, kepada saya, finalis Philip Morris Art Award 1997 itu menceritakan sekitar 4 atau 5 kisah yang berkaitan dengan sesuatu yang dia sebut sebagai titik balik itu. Dan selanjutnya, Mas Yadi memungkasinya dengan kisah ke-6, yakni kisahnya sendiri. Pelukis yang pernah menjadi tukang gambar poster bioskop itu bercerita bagaimana begitu antipatinya ayahnya terhadap dunia lukis. “Saat itu, jika ada kawan saya bertamu, bapak akan bersikap ramah selama kawan saya itu bukan pelukis. Tapi sikap bapak akan berubah jika yang bertamu itu pelukis. Bapak tidak akan mau mengajak bicara tamunya, begitu beliau tahu tamunya itu berprofesi sebagai pelukis. Siapa pun dia, mau pelukis kelas dunia sekalipun, bapak tetap takkan sudi menyapanya. Seolah-olah rumah saya itu terlarang bagi pelukis”, kenangnya.
Menurut Mas Yadi, sikap antipati bapaknya terhadap dunia lukis dipicu oleh keengganannya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Saya berbeda mimpi dengan bapak. Saya bermimpi jadi pelukis, bapak memimpikan saya jadi PNS. Saya dengan bapak memiliki ukuran sukses yang berbeda. Saat itu, ukuran sukses bagi bapak adalah jika saya jadi PNS”, lanjut Mas Yadi dengan tatapan mata menerawang.
Mas Yadi tidak menyesali keadaan tersebut. Tanpa adanya sikap antipati bapaknya, Mas Yadi meyakini dirinya akan gagal jadi pelukis. Sikap antipati sang bapak, justru memunculkan kegigihan seniman yang pernah menggelandang di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta itu. Kegigihan untuk membuktikan bahwa pilihannya menjadi pelukis adalah pilihan hidup yang tak salah.