Lokus Baru Seni Rupa Sembako

Potret pengrajin patung Budha yang bersaing di tengah dinamika pasar seni rupa global.

Karya seni rupa kontemporer Indonesia cukup di perhitungkan di kancah internasional. Karya seni rupa kontemporer seniman Indonesia yang terpusat di wilayah seperti Bandung, Jakarta dan Yogyakarta mengalami perkembangan yang dinamis. Perkembangan itu mencakup berbagai karya kreatif diantaranya lukisan, patung, instalasi, grafis, tekstil dan performance art. Seni rupa bisa mengalami transformasi sejalan dengan perubahan sosial, budaya dan kemajuan teknologi. Terkecuali, seni rupa di Banyuwangi yang sepertinya masih lempeng-lempeng saja merespon dinamika dan perubahan yang ada. Barangkali seni rupa di daerah yang bukan pusat juga sama nasibnya. Persoalan semacam itu harus dikaji secara serius agar perkembangan seni rupa bisa merata dan tidak dimonopoli pusat. Peristiwa Manikebu dan Lekra bisa menjadi contoh bagaimana mazhab kebudayaan nasional mengalami gesekan, tekanan sampai terjadi perubahan akibat eskalasi kebudayaan dimasa itu. Baik Manikebu atau Lekra punya pengikut dan pendukungnya masing-masing dalam bidang seni rupa. Kontras keduanya tidak hanya pada soal gaya melukis bahkan sampai pada hal ideologi berkesenian. Dalam setiap era seni rupa mencerminkan semangat, nilai dan estetika masyarakat pada masa itu. Seni rupa dapat menjadi sarana ekspresi yang strategis dalam mengejawantahkan gagasan dan ide kreatif yang berkembang sepanjang zaman.

Seniman dapat turut serta memperkuat sistem sosial dan kemajuan bangsa. Seniman dalam hal ini pelukis, pemusik, penyair, aktor dan fotografer dapat berperan sebagai aktivis yang menjalankan kontrol terhadap kerja pemerintah. Para seniman itu dapat menggunakan karyanya sebagai alat kontrol kekuasaan, seperti yang terjadi pada karya seni di masa orde lama sampai orde baru. Karya seni mereka memiliki potensi untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap hal tertentu yang dirasa menyimpang atau abnormal, karya seni yang baik mestinya dapat memprovokasi emosi seseorang dan karya seni juga dapat menjadi sarana refleksi yang mujarab. Merefleksikan situasi politik maupun perkembangan sosial dalam bidang yang lain. Seniman dapat semaksimal mungkin menggunakan karya seninya untuk merangsang pemikiran kritis masyarakat. Seniman adalah pejuang dan karya seninya dapat menjadi alat perjuangan yang memperjuangkan isu-isu yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Karl Marx dalam A Contribution to the Critique of Political Economy menulis :

“Objek seni, seperti produk lainnya, menciptakan sesuatu yang artistik dan indah sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan demikian, produksi tidak hanya menghasilkan suatu objek bagi individu, tetapi juga individu bagi objek”.

Mengkaji pendapat Karl Marx, bahwa karya seni tidak hanya menjadi objek kapital yang hanya dibuat semata-mata hanya untuk mendatangkan keuntungan finansial namun dapat menjadi alat untuk menghadirkan peran manusia kepada objek itu sendiri. Baik itu objek manusia maupun alam dengan segala persoalan lingkungan yang semakin gak karuan sehingga kehadiran karya seni menjadi lebih bermakna bagi kehidupan manusia. Seni rupa di Banyuwangi sebenarnya memiliki modal utama berupa kearifan lokal dan adat tradisi yang menyertainya. Eksistensi seni rupa di Banyuwangi sejak semula dipengaruhi oleh faktor budaya, sejarah, lingkungan, tradisi dan agama. Lihatlah, kesenian janger yang tumbuh subur di periode tahun 60-an, sarat dengan simbol-simbol visual yang dikerjakan oleh seniman yang entah siapa nama dan inisiatornya. Seni rupa tradisi berkembang bukan sebatas membuat ruang popularitas bagi orang per orang melainkan segala sesuatunya dipersiapkan dan dikerjakan secara bersama dengan semangat gotong royong. Naskah pertunjukan janger mengisahkan cerita keseharian dan tak jarang mengangkat tema kekuasaan. Cerita-cerita itu dikonsumsi oleh masyarakat dengan serta melihat berbagai macam unsur visual yang menyertainya. Faktor pembentuk inilah yang mestinya disadari sebagai modal utama membangun kekuatan seni rupa lokal di daerah.

Pada tahun 1970 an, seni rupa modern di Banyuwangi mulai menampakkan geliat nya. Didi Bachran adalah salah satu seniman yang memainkan peran penting dalam perkembangan seni rupa modern di Banyuwangi. Dia, selain sebagai pejabat publik juga salah satu aktor sentral pembangunan kebudayaan dan kesenian di Banyuwangi. Didi merupakan inisiator hadirnya seni rupa di ruang publik. Dimulai dari kerja konsolidasinya dengan para seniman tradisi sampai perencanaan dan pelaksanaan proyek pembangunan beberapa monumen dan patung pahlawan nasional yang berdiri di pusat kota Banyuwangi. Didi juga berkolaborasi dengan maestro seniman patung asal Yogyakarta Edhi Sunarso. Di masa orde lama tak sedikit seniman Banyuwangi yang tergabung dalam Lekra terkena dampak dari peristiwa kudeta yang diduga dilakukan oleh PKI, sehingga banyak dari mereka harus diamankan. Di masa itu tidak diketahui siapa seniman di Banyuwangi yang karyanya turut mewarnai kritik atas masa kekuasaan orde lama. Tidak ditemukan karya seni rupa yang berbicara tentang situasi di masa itu. Sepertinya, selain yang tergabung dalam seni pertunjukan Janger tidak diketemukan lagi kiprah seniman banyuwangi di periode tahun 60-an, khususnya di bidang seni rupa.

Seniman kontemporer tidak bisa serta merta disejajarkan dengan kiprah seniman tradisi di masa lalu. Seniman masa sekarang punya akses yang lebih luas terhadap segala macam informasi dan eksplorasi media untuk mengungkapkan gagasan mereka. Namun dalam perkembangannya, karya seniman kontemporer Banyuwangi di dominasi oleh karya yang melulu menampilkan identitas budaya sebagai citra belaka. Senyampang karya yang ada diantaranya potret penari Gandrung yang cantik, sekumpulan ikan koi, segerombolan kuda berlari, semak belukar hutan dan bambu, panorama pantai dan pastinya tidak ditemukan lukisan atau karya seni rupa yang mencitrakan suasana lingkungan yang kering kerontang di wilayah pegunungan akibat aktivitas industri dan penambangan atau penyerobotan lahan, misalnya.

Meski tema-tema pasaran semacam itu berjubel namun masih ada sedikit seniman di Banyuwangi yang cukup konsisten mengangkat tema dan isu sosial dalam karyanya. Seniman itu adalah Abdul Rohim. Sebagai seniman muda dan didukung kemampuan teknis yang tinggi, pantas kiranya menempatkan sosok nya sebagai seniman muda yang layak diperhitungkan. Kemampuan skillnya dalam mengolah tehnik dan mengelola isu-isu sosial menjadikan karyanya kuat secara kontekstual. Rabdul Rohim salah satu dari segelintir seniman Banyuwangi yang ajeg dalam menghayati keadaan sosial masyarakat di tengah situasi dan dominasi seniman yang lebih memilih mempertimbangkan dan memperhitungkan kemauan konsumen beserta faktor-faktor komersial lainnya.

Prinsipnya, berkarya dengan berfikir tentang pemenuhan kebutuhan sembako adalah hal yang wajar namun tetap harus sensitif terhadap perkembangan politik maupun dinamika sosial yang lainnya. Abdul Rohim menyadari bahwa di dalam profesinya ada dorongan moril untuk tetap menjunjung tinggi keberpihakan dalam karya-karyanya.

Praktik seni rupa kontemporer di Banyuwangi dihadapkan pada tantangan yang mana sebagian besar seniman lebih memilih untuk bernegosiasi pada kebutuhan pasar. Ada yang berpendapat bahwa itu pilihan masing-masing, mau berpihak atau tidak ya terserah. Menurut saya lebih pas, bahwa itu kesadaran masing-masing yang melekat dalam status kesenimanan. Mau disadari atau tidak maka kemudian ada ketetapan untuk memilih. Seniman Banyuwangi generasi tahun 1970 sampai 90-an lebih memilih Bali sebagai pusat pengembangan bakat. Disamping mengasah kemampuan tehnis, pasar sudah cemepak. Seniman tinggal menjajakan karyanya untuk tahu bahwa karya tersebut layak atau tidak diserap pasar. Setidaknya, kondisi semacam ini menggejala sampai saat ini. Artinya, hal itu disebabkan infrastruktur atau pasar seni di Banyuwangi belum tersedia sehingga sangat lemah dalam menyerap produksi karya seniman lokalnya. Namun, penting untuk diingat bahwa seni apapun itu merupakan bentuk ekspresi dan kreativitas personal yang bersifat bebas. Bebas mau jualan saja karena tuntutan pengadaan sembako atau mau ikut berjuang di medan laga, monggo saja.

Seniman harus bisa menemukan titik keseimbangan antara kebutuhan pasar dan idealisme. Banyak seniman menciptakan karya hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar, sementara sebagian yang lain memilih untuk tetap setia pada visi kreatif mereka tanpa memperhatikan aspek komersial secara dominan.

Umumnya seniman dianggap sebagai gelar profesi bagi pekerja seni maka akan melekat pada definisinya keterhubungan dengan sumber penghasilan. Sebagaimana profesi yang lain, status seniman dapat digunakan secara bebas sebagai status pekerjaan.

Siapa yang ingin menjadi seniman, silahkan unjuk tangan !

* Penulis merupakan Pemerhati Budaya.

___________________

Catatan :

  • Esai ini sebelumnya pernah dimuat di medium.com
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *