Laut Yang Menghafal Nama

Laut Yang Menghafal Nama | ilustrasi Hari Purnomo – jekabe

Nama Niluh Devi terdengar seperti doa yang tersesat. Di Istanbul, tak ada yang bisa mengucapkannya dengan benar. Mereka memanggilnya Nil, Lulu, atau sekadar the Balinese girl. Seolah nama hanyalah sesuatu yang bisa disederhanakan, dipotong, lalu dibuang ketika tak lagi berguna. Padahal, di Bali, nama itu pernah dipercikkan air suci.

Niluh Devi bekerja di sebuah SPA yang mengaku menjual ketenangan. Namun sesungguhnya tempat itu hanya menjual lupa. Para pelanggan datang membawa tubuh yang ingin dimaafkan dan pikiran yang ingin dikhianati. Niluh Devi mengerti benar cara kerja lupa: tekan sedikit di titik tertentu, maka orang akan melepaskan segalanya — termasuk moral.

Istanbul menyambutnya dengan dingin yang sok puitis. Kota ini gemar berpura-pura sebagai persimpangan peradaban, padahal ia hanya persimpangan kesepian. Semua orang di sini sedang mencari sesuatu : Tuhan, cinta, masa lalu, atau alasan untuk mengkhianati diri sendiri

Mustafa muncul seperti tokoh yang merasa dirinya penting.

Ia pelanggan tetap. Selalu meminta ruangan yang sama. Selalu meminta Niluh Devi. Ia mengaku dosen sejarah, tapi Niluh Devi tak pernah benar-benar tahu sejarah mana yang ia ajarkan. Mungkin sejarah tentang bagaimana seorang lelaki belajar memanipulasi bahasa agar terdengar seperti kebenaran.

“Tubuhmu menyimpan cerita purba,” kata Mustafa suatu sore, dengan suara yang dibuat lebih dalam dari seharusnya.

Niluh Devi tersenyum — senyum orang yang tahu bahwa pujian sering kali hanya kedok niat yang lebih rendah. Namun, perantauan membuat orang mudah percaya. Di negeri orang, bahkan kebohongan bisa terasa hangat.

Mereka mulai bertemu di luar SPA. Minum teh di kedai kecil dekat Selat Bosphorus. Mustafa bercerita tentang Rumi, tentang cinta sebagai luka suci, tentang perempuan sebagai pintu menuju Tuhan. Niluh Devi mendengarkan, sebab tak ada siapa pun yang mendengarkan ceritanya tentang Bali, tentang ibunya, tentang upacara yang tak sempat ia ikuti.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *