Koran Kakek Tua

Koran Kakek Tua | ilustrasi Hari Purnomo – jekabe

Pagi menjelang siang terasa panas, sinar matahari kala itu terik dan menyilaukan mata, bunyi knalpot dan klakson mobil bersahutan, hiruk pikuk mobil bersalipan. Diseberang jalan, terlihat kakek tua yang sedang bekerja mengadu nasib sembari menawarkan dagangannya kepada para pengemudi mobil dan sepeda motor, kala itu memang matahari begitu terik, tetapi tak menyurutkan semangatnya demi selembar dua lembar rupiah, “koran koran,” katanya, sambil berjalan menjajakan koran, dengan wajah sumringah yang kian lama mengeriput tak seindah dulu.

Ia pikir di separuh sisa hidupnya akan beristirahat dengan cukup. Ternyata tidak dan mau bagaimana lagi ini sudah menjadi takdirnya. Sudah dinikmati saja, pikirnya. Terkadang hidup yang kita keluhkan dan kita sesali keberadaannya adalah hidup yang ingin dimiliki oleh orang lain, oleh karena itu berpandai-pandailah bersyukur karena “Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku Maka niscaya akan aku tambah,” karena semuanya telah tertata rapi dan tentu masing-masing punya bagian.

Terlihat ia mengusap keringat di wajahnya yang keriput dan menua, sejak tadi tak satupun korannya terjual. Sekian banyak mobil dan sepeda motor yang lewat, tidak ada satupun yang mau membeli koran. “Apakah koran ini sudah dianggap kuno dan tidak efektif lagi ? tak ingatkah, dahulu koran dibaca oleh semua kalangan.” Pertanyaan itu terucap dalam benaknya.

Ya memang betul, dulu koran adalah media berita yang sangat populer dan sekarang ia kehilangan eksitensinya. Koran bersaing dengan media lain yang bersifat digital. Apalagi di era sekarang ini, smatrphone yang kita miliki adalah media penyampai informasi terbaik dalam waktu yang relatif singkat. Kita bisa mengetahui berita dalam negeri maupun luar negeri dalam sekejap, namun yang lebih penting kita harus cakap memilih dan memilah informasi, apakah itu hoax atau fakta ?

Sesambil menahan terik dan panasnya matahari, beliau kembali melakukan pekerjaannya, yakni menawarkan koran ke setiap mereka yang lewat berlalu lalang, penghasilan dari menjual koran memang tak seberapa. Hanya cukup untuk mengisi perut. Menjual koran demi untuk menghidupinya setiap hari, “adakah rezeki yang terselip di persimpangan jalan ini, mungkin kah Tuhan dengan kasih dan sayang nya iba terhadapku ?” batinnya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *