
Hujan turun. Mula-mula pelan. Kemudian seperti orang marah. Guru duduk di beranda tanah perdikan. Murid duduk di depannya. Mereka tidak berteduh. Mereka juga tidak kehujanan. Setidaknya mereka merasa begitu. Di tengah mereka ada sebuah kitab. Kitab itu basah. Sudah lama basah. Mungkin sejak ditulis. Murid memandang kitab itu. “Kitab apa itu, Guru?” tanya murid. Guru mengangkat bahu. “Kitab Gesah. Isinya apa?” tanya murid. “Belum ada,” sahut Guru. Sang murid terheran.
“Kalau belum ada kenapa disebut kitab?” tanya murid. Guru tertawa. Hujan bertambah deras.”Karena semua orang sudah percaya itu kitab.” kata Guru. Sang murid mengangguk-angguk. Ia tidak mengerti. Tetapi merasa mengerti. Seperti kebanyakan orang. Mereka lantas diam. Dari kejauhan terdengar suara gamelan juga suara angin. Mungkin suara masa lalu. Murid membuka kitab itu. Kosong. Tidak ada satu huruf sekalipun. “Tidak ada apa-apa,” kata murid. Guru mengangguk.
“Itulah masalah kita.” Murid menutup kitab. Lalu membukanya lagi. Masih kosong. “Di mana cerita tanah Perdikan?” tanya murid. “Sudah hilang,” kata Guru. “Siapa yang mencurinya?” Guru berpikir lama. Lalu menunjuk ke segala arah. Murid mengikuti arah telunjuk itu. Tidak ada siapa-siapa. Sawah. Pohon. Kabut hujan. Seekor burung yang kebingungan. “Semua mencurinya?” “Tidak.” “Lalu?” “Semua menjualnya.” Murid terdiam.
Hujan semakin rapat. Halaman-halaman kosong itu mulai bergelombang. Tiba-tiba dari salah satu lembar muncul seorang penari. Seperti peri. Kecil sekali. Sebesar jari. Ia menari di atas kertas. Sayap Jarit Juwono mengepak. Murid melompat. “Guru!” Guru tidak terkejut. Penari itu terus bergerak. Semakin lama semakin banyak. Ada satu. Ada dua. Ada sepuluh. Ada seratus. Mereka keluar dari halaman kosong. Menari di udara.
Mengelilingi hujan. Mengelilingi pohon. Mengelilingi dunia. Sang murid terpukau. “Jadi belum hilang?” Guru menggeleng. “Belum.” “Masih ada?” “Masih.” “Lalu kenapa kitabnya kosong?” Mendengar pertanyaan sang murid, sang Guru tersenyum. “Karena semua sibuk memotretnya.” Penari-penari itu terus berputar. Kemudian satu per satu berubah menjadi gantungan kunci. Menjadi desain kaos. Terpampang didalam brosur. Dikemas dalam paket wisata seni pertunjukan. Terpampang di baliho. Dijual dengan diskon di setiap akhir pekan.
Murid ketakutan. Penari terakhir jatuh ke tanah. Menjadi recehan. Guru memungutnya. Murid berkeringat meskipun udara dingin. “Kalau begitu kita harus menyelamatkannya.” Guru mengangguk. “Ya.” “Dengan apa?” Tanya sang murid. “Dengan menggambar.” “Menggambar?” Guru mengeluarkan selembar kertas. Hujan langsung menghantamnya. Cat yang belum sempat digunakan meleleh. Gambar itu tampak rusak. Bergerak. Bergeliat. Murid memperhatikan. Garis-garis yang larut berubah menjadi jalan. Jalan berubah menjadi sungai. Sungai berubah menjadi wajah-wajah yang belum pernah ia lihat.
Wajah-wajah itu menatapnya. “Siapa mereka?” Guru menjawab pelan. “Orang-orang yang belum lahir.” Murid merinding. Hujan mulai reda. Penari-penari kecil menghilang. Kitab itu masih terbuka. Masih kosong. Tetapi sekarang Murid melihat sesuatu. Di setiap halaman kosong terdapat bayangan tangannya sendiri. “Bukankah ini tetap kosong?” Guru berdiri. “Maka isilah.” “Dengan apa?” Guru berjalan meninggalkan beranda. “Dengan hidupmu.” Murid ingin bertanya lagi. Tetapi Guru sudah hilang.
Entah pulang. Entah menjadi hujan. Entah masuk ke dalam kitab. Di halaman terakhir tiba-tiba muncul satu kalimat. Murid tidak tahu siapa yang menulisnya. Mungkin saja hujan yang menuliskannya. Mungkin tanah. Mungkin mereka yang belum lahir.
Kalimat itu berbunyi : Jangan takut kitab menjadi kosong. Takutlah jika manusia sudah tidak lagi ingin menuliskannya.
Hujan berhenti. Kitab itu menutup sendiri.
* Penulis merupakan Pemerhati Budaya