Kepala Kecoa

Kepala Kecoa | ilustrasi Hari Purnomo – jekabe

Bunyi yang terasa sederhana. Bunyi yang sama sekali tidak filosofis. Bunyi yang sama sekali tidak puitis. Bunyi yang sama sekali tidak revolusioner. Hanya bunyi kepala kecoa.

Jika melihat kecoa, jangan dibunuh. Apalagi kalau dia pintar. Kecoa pintar itu langka. Kalau ada kecoa pintar, peliharalah. Kasih makan. Kasih panggung. Kalau perlu kasih mikrofon. Di kampung kami ada satu. Kepalanya besar. Bukan karena otaknya. Karena sering dipakai berpikir tentang dirinya sendiri. Kecoa itu luar biasa. Ia berhasil meyakinkan banyak kecoa lain bahwa dirinya penting. Padahal tidak ada yang lebih sulit daripada membuat seekor kecoa terlihat penting. Sebab kecoa memang sudah cukup sibuk menjadi kecoa. Tetapi dia berhasil. Ia membaca buku. Banyak sekali. Buku filsafat. Buku sastra. Buku yang tebal-tebal.

Kecoa-kecoa muda langsung kagum. Maklum. Mereka belum tahu bahwa membaca buku dan memahami isi buku adalah dua pekerjaan yang berbeda. Mereka mengangkatnya menjadi guru. Tidak resmi. Yang resmi malah lebih berbahaya. Mereka menganggap setiap kalimatnya adalah kebijaksanaan. Padahal kadang-kadang hanya keluhan. Kadang-kadang hanya gosip. Kadang-kadang hanya suara perut. Tetapi kalau yang mengucapkan orang besar, suara perut juga bisa terdengar seperti teori. Itulah keajaiban.

Kecoa itu suka bicara tentang kebebasan. Setiap hari. Pagi. Siang. Malam. Kebebasan harus dijaga. Kebebasan harus dirawat. Kebebasan harus dibela. Karena itu, semua kecoa harus mengikuti pikirannya tentang kebebasan. Yang tidak setuju dianggap musuh kebebasan. Masuk akal. Kalau tidak masuk akal justru sulit dipercaya. Ia juga suka bicara tentang persaudaraan. Karena itu, ia memutuskan hubungan dengan banyak kecoa lain. Demi persaudaraan. Ia bicara tentang keterbukaan. Karena itu, ia membangun tembok. Ia bicara tentang kerendahan hati. Karena itu, ia selalu duduk paling depan. Supaya semua kecoa bisa melihat betapa rendah hatinya.

Kecoa-kecoa muda makin kagum. Mereka mencatat. Mereka menghafal. Mereka meniru. Sebagian bahkan mulai berjalan seperti dirinya. Untung belum ada yang berhasil menumbuhkan kepala sebesar itu. Kalau berhasil, kampung kami mungkin tenggelam. Karena kepala-kepala besar memang berat. Apalagi kalau isinya pujian. Kecoa itu kemudian mendapat jabatan. Jabatan sebagai Kepala pengampuh bidang kebudayaan di perkampungan kecoa. Cocok. Karena kebudayaan memang sering tidak tahu harus diletakkan di mana. Dia tidak perlu bekerja terlalu keras. Yang bekerja kecoa lain. Yang berkeringat kecoa lain. Yang membuat acara kecoa lain. Yang mendapat tepuk tangan dia.

Ini juga bakat. Tidak semua kecoa mampu melakukannya. Sebagian besar kecoa hanya mampu mencuri remah roti. Dia mencuri prestasi. Levelnya lebih tinggi. Karena itu harus dihormati. Jangan iri. Ia juga pandai mencari dana. Gesit dalam mencari sponsor. Hebat sekali. Ia bisa mendatangi saudagar-saudagar kaya. Pulang membawa uang. Orang menyebutnya kemampuan komunikasi dan persuasi. Tetapi karena dia terkenal, semuanya terdengar mulia. Begitulah nasib kata-kata. Kalau keluar dari mulut orang terkenal, bau got pun bisa disebut harum parfum. Karena itu kecoa tersebut semakin besar. Bukan badannya, melainkan kepalanya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *