
Maka seniman — kalau masih punya hati — mestinya bukan sekadar tukang hibur. Seniman jangan jadi tukang ngibul. Tukang rame-rame atau tukang juri lomba seni sana sini. Ia mestinya sadar sebagai saksi zaman. Ia cermin masyarakat.
Karya seni itu, pada dasarnya, adalah anak dari kejujuran. Ia lahir dari ruang di dalam dada manusia yang mengalami gelisah. Maka, kalau hari ini ada yang berkata, “Karya kami tidak berekspektasi yang ndakik-ndakik”, saya tahu itu bukan rendah hati, melainkan sebuah sikap perlawanan. Karena di tengah dunia yang penuh kepura-puraan, tidak berharap apa-apa itu justru bentuk tertinggi dari harapan.
Sebab lihatlah, di negeri ini banyak media lebih senang menulis tentang siapa yang pamer mobil baru, status baru, jabatan baru, capaian baru, penghargaan baru, dan sebagainya. Padahal di luar sana ada rakyat yang melawan monopoli tanah, melawan hegemoni perusahaan, dan melawan keserakahan. Tapi media memilih tutup mata, karena sudah terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak iklan, dan terlalu banyak ketakutan.
Maka seniman — kalau masih punya hati — mestinya bukan sekadar tukang hibur. Seniman jangan jadi tukang ngibul. Tukang rame-rame atau tukang juri lomba seni sana sini. Ia mestinya sadar sebagai saksi zaman. Ia cermin masyarakat. Tapi apa yang terjadi ? Di negeri ini, para penyair sibuk bersajak tentang kemiskinan di panggung-panggung festival. Mereka bicara tentang rakyat kecil di hotel-hotel berbintang. Mereka menangis tentang penderitaan, tapi air matanya jatuh di gelaran karpet merah.
Tepuk tangan menggelegar, sanjungan mengalir, dan status sosial naik setingkat. Dari seniman menjadi maestro. Dari penyair menjadi budayawan. Kelucuan yang tragis. Karena di saat mereka beretorika tentang penindasan, ada jarak yang menganga antara kata dan kenyataan. Ada jurang antara retorika dan tindakan. Kadang penindasan itu dibangun bukan hanya oleh kekuasaan, tapi juga oleh para senimannya sendiri. Mereka yang mestinya menjadi sirine peringatan bagi perilaku yang kebablasan, justru ikut melestarikan kepura-puraan. Mereka menjadi bagian dari ekosistem yang macet dan sistem yang busuk.
Tapi ketika ada yang berani bicara, berani menunjuk hidung, berani mengatakan “Ada yang tidak beres !”, langsung saja dibungkam. Dibilang tidak sopan dan tidak beradab. Dianggap tidak menghormati senior. Wah, ini penyakit lama. Setiap kali kejujuran muncul, selalu dibenturkan dengan etika dan tata krama. Padahal kebenaran itu memang sering tidak sopan terhadap kebohongan.
Saya kira, bangsa ini tidak kekurangan seniman, tapi kekurangan keberanian. Maka, kalau ada sekelompok kecil orang yang masih mau berkata jujur, biarlah mereka dicaci. Biarlah mereka tidak tampil di televisi dan tidak muncul namanya di koran-koran resmi. Karena sejarah tidak pernah diingat dari siapa yang paling banyak disanjung, tapi dari siapa yang berani jujur. Sebab dalam sejarah panjang bangsa ini, perubahan tidak pernah datang dari yang pandai basa-basi, tapi dari mereka yang berani menanggung sepi.
* Penulis merupakan Pemerhati Budaya.