Melacak Jejak Seblang di Bumi Blambangan

Prosesi Seblang Olehsari di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah – Banyuwangi.

Adanya penari seblang laki-laki ini tentu tidak mengejutkan, karena sebelumnya, Suroto (1979:346) menegaskan bahwa mula-mulanya, tarian seblang yang melibatkan kesurupan itu memang dilakukan oleh kaum laki-laki. Begitu pula dengan tarian gandrung yang disebut Sauri (2022:77) dilakukan oleh laki-laki berumur 7 hingga 14 tahun.

Jauh sebelum tradisi seblang dimulai di Tanah Blambangan, terlebih dulu muncul permainan Nini Thowong dari Jawa dan tari Sanghyang dari Bali. Nini Thowong tak lain adalah sebuah permainan magis yang melibatkan boneka seukuran manusia. Para peneliti dari luar negeri, misalnya Hazeu (dalam Wolbers, 1992:146) bahkan menganggap permainan ini merupakan sisa-sisa dari upacara adat bercorak animisme, yang terus berlangsung dan bertahan, bahkan ketika Hindu dan Islam masuk. Nini Thowong dimaksudkan untuk mengundang roh baik atau positif yang bernama widadari.

Widadari (atau sekarang dikenal sebagai bidadari atau peri) bukanlah konsep yang berasal dari agama Islam, melainkan jauh sebelum kebudayaan Hindu masuk. Setelah kedatangan Hindu di Indonesia, konsep bidadari ini terlepas dari akar kebudayaan Malay-Polynesia, sehingga memunculkan bidadari-bidadari baru. Ada tujuh bidadari yang sering disebut, dan semuanya menyimbolkan atau melambangkan sesuatu, misalnya Tohok (tuak), Sulasih (air), Kuranta (sayuran), Gagar Mayang (minuman keras), Tunjung Biru (laut), Supraba (beras/nasi), Wilotama (daging).

Konsep bidadari ini juga turut hadir dalam ritual adat sanghyang, terutama tarian Sanghyang Dedari. Kata sanghyang mengacu pada entitas (baik berupa roh maupun arwah leluhur) yang menghuni wilayah pegunungan di Pulau Jawa. Hyang berarti sosok yang disembah dan bersifat tak kasat mata, sedangkan dedari berarti roh suci bidadari. Dua orang gadis muda (biasanya masih perawan) yang terpilih akan dirias dan dimasuki oleh roh suci bidadari, sehingga ia mengalami apa yang dinamakan trance atau kerawuhan.

Nama bidadari Supraba dan Wilotama ternyata masih abadi dalam salah satu gending seblang, yakni Lilira Kantun. Nama mereka juga diabadikan dalam gending Lir-Ilir Kantu dari Nini Thowong dan gending Kembang Jenar dalam ritual adat Sanghyang Dedari. Selain itu, gending-gending seblang lain seperti Sekar Jenar dan Cengkir Gading juga menyebut adanya keberadaan peri atau bidadari.

Saat wilayah Kerajaan Blambangan dilanda perang berkepanjangan, tersiar kabar bahwa seorang prajurit dan komandan pasukan Blambangan, Sayu Wiwit, menarikan tari seblang sebagai tarian pembuka perang. Hasnan Singodimajan, salah satu budayawan Banyuwangi, menerangkan bahwa Seblang Olehsari menggambarkan bagaimana Kerajaan Blambangan berdiri dan mencapai puncak kejayaan, sedangkan Seblang Bakungan secara parodik menggambarkan adegan-adegan ketika dan pasca Perang Bayu. Walaupun sumber yang diperoleh Hasnan ini merupakan cerita tutur, tetapi hal ini membuktikan, bukan tidak mungkin bahwa unsur-unsur mistis seperti syamanisme dan kerasukan roh halus telah hadir sejak zaman Kerajaan Blambangan (Wessing, 1999:648).

Ketika Perang Bayu berakhir pada tahun 1773 dan para penduduk lokal berpindah dari Ulu Pangpang (Muncar) ke daerah Banyuwangi Kota, mereka melakukan babat alas di sekitar wilayah ibukota yang baru. Penulis berasumsi, rentang tahun pasca perang ini (1773 – 1800) menjadi titik awal munculnya upacara-upacara adat di Banyuwangi yang melibatkan kejiman atau kerawuhan, seperti seblang, barong ider bumi, dan kebo-keboan. Eksodus atau perpindahan besar-besaran ini juga menyebabkan masuknya suku-suku dan kepercayaan lain ke Tanah Blambangan, termasuk agama Islam.

Asumsi penulis menjadi semakin jelas ketika penulis bertukar pendapat dengan salah satu dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Abu Bakar Ramadan Muhamad, S.S., M.A. Abu Bakar mengatakan, diperlukan kajian ulang apakah upacara-upacara adat seperti seblang, barong, dan kebo-keboan memang benar merupakan kebudayaan yang lahir sebelum Kerajaan Blambangan mulai runtuh pasca wafatnya Prabu Tawangalun II. Menurut beliau, kebudayaan yang dapat disebut sebagai kebudayaan asli Kerajaan Blambangan mestinya bersumber dari apa yang ia sebut sebagai Arja Blambangan.

Arja Blambangan sendiri merupakan istilah yang dipakai Abu Bakar untuk mendefinisikan inner circle atau masyarakat keraton dari Kerajaan Blambangan. Masyarakat tersebut terdiri dari raja, keluarga raja, para pendeta atau brahmana, kesatria, patih, dan lain sebagainya. Di luar tembok keraton, terdapat lapisan lain, yakni outer circle atau masyarakat pinggiran. Masyarakat atau kelompok ini terdiri atas para pendatang dari berbagai etnis yang telah bercampur dengan penduduk asli, misalnya suku Bali, suku Bugis, suku Mandar, suku Cina, suku Jawa, suku Madura, dan masih banyak lagi. Banyaknya pendatang ini merupakan sebuah keniscayaan dan hal yang normal, mengingat Blambangan saat itu juga menjadi penghubung antara Jawa dan Bali serta menjadi tempat berlabuh atau dermaga bagi banyak kapal.

Abu Bakar menduga, ketika Perang Bayu berakhir dan seluruh Arja Blambangan benar-benar dibumihanguskan, maka masyarakat pinggiran atau outer circle tersebut bermigrasi dan berpencar ke tempat-tempat lain. Wolbers (1992:50) menegaskan bahwa sejak permulaan abad ke-19 atau tahun 1800-an awal, sisa-sisa Kerajaan Blambangan tidak lagi terlihat dan wilayah utara Blambangan telah dipenuhi dengan hutan. Ditambah lagi, erupsi Gunung Ijen pada tahun 1817 dan banyaknya area rawa-rawa di Banyuwangi waktu itu menyebabkan banyak komunitas terjangkiti wabah atau epidemi. Sebagian sisa-sisa masyarakat outer circle tersebut lantas bermigrasi ke Distrik Banyuwangi (sekarang Banyuwangi Kota). Franz Epp (dalam Wolbers, 1992:51) mencatat bahwa per tahun 1846, terdapat sebanyak 28.000 orang di Distrik Banyuwangi dan terdiri atas orang Using (pribumi), Eropa, Madura, Melayu, Mandar (dari Sulawesi Utara), Cina, Arab, dan Bali.

Pada tahun tersebut, tiap-tiap kelompok etnis memiliki kampungnya masing-masing. Salah satunya adalah Suku Bali, yang hidup terpisah dari kelompok-kelompok etnis lain karena perbedaan agama mereka. Mereka dipimpin oleh seorang gusti dan hidup di kampung yang kecil dalam kondisi kurang bersih. Keberadaan kelompok ini sangat signifikan dalam pelacakan ritual seblang. Hal tersebut dikarenakan kelompok ini merupakan bagian, atau paling tidak, keturunan (anak-cucu) dari bagian outer circle yang pernah hidup di masa Kerajaan Blambangan.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *